WhatsApp BioSystems Group

Text Only !

Specialists in Water and Waste Treatment

Krisis Air di Bali Selatan Semakin Memburuk

Krisis Air di Bali Selatan Semakin Memburuk

Muchamad Awal, Chief Executive dari IDEP Selaras Alam Foundation, telah secara terbuka memperingatkan bahwa Pulau Bali sedang menghadapi krisis air yang parah.

Didirikan di Bali pada tahun 1999, IDEP adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang bertujuan membangun ketahanan di masyarakat lokal melalui pengembangan pertanian berkelanjutan (permaculture) dan keberlanjutan, manajemen bencana berbasis komunitas, peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan konsultasi, serta program pendidikan publik.

Selama lebih dari dua dekade, IDEP telah berhasil membantu lebih dari 25.000 orang di 78 lokasi pedesaan yang berbeda dan memfasilitasi lebih dari 500 kegiatan pelatihan dan konsultasi.

Seperti dilaporkan oleh Beritabali.com, Eksekutif IDEP menjelaskan bahwa krisis air Bali yang semakin memburuk disebabkan oleh perubahan iklim dan pertumbuhan pesat industri pariwisata di Pulau ini. Dampak dari pembangunan pariwisata yang tak terkendali paling terasa di bagian selatan Pulau, yang menghadapi tantangan signifikan dalam hal pasokan dan kualitas air.

Berbicara pada sebuah konferensi pers di Sanur, Bali, pada hari Selasa, 30 Juli 2024, Awal mengatakan, “Krisis air adalah tantangan utama yang dihadapi Bali saat ini.”

Awal berkomentar: “Selain masalah perubahan iklim, pertumbuhan besar-besaran di sektor pariwisata di wilayah selatan Bali telah secara dramatis meningkatkan volume konsumsi air, yang pada gilirannya merusak baik kuantitas maupun kualitas sumber daya air tanah.”

Sebagai salah satu solusi untuk kekurangan air, Awal merekomendasikan pembuatan fasilitas penyimpanan untuk menampung air hujan. Fasilitas ini harus terlebih dahulu dibangun di Bali bagian tengah dan utara, di Kabupaten Bangli, Karangasem, Tabanan, dan Buleleng.

Sejak tahun 2018, IDEP Selaras Alam Foundation telah bekerja sama dengan Politeknik Negeri Bali (PNB) untuk membangun 91 fasilitas penampungan air hujan. PNB telah menyelesaikan 24 sumur dari total target 136 sumur.

Awal menjelaskan bahwa setiap fasilitas penampungan air hujan menelan biaya sekitar Rp36 juta untuk dibangun, dan kedalaman sumur, tergantung pada area yang dipilih, rata-rata antara 32 hingga 50 meter.

IDEP berharap sumur baru yang dioperasikan dengan fasilitas penampungan air hujan akan membantu menjadikan Bali berkelanjutan dalam hal air.

Biosystemsgroup © 2026 All rights reserved.

Design by Web Developer Bali