Sebuah studi yang diterbitkan oleh Regional Studies Center of Marine Science dan dibagikan oleh Beritabali.com mencatat bahwa abrasi garis pantai di Bali terjadi pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.
Total garis pantai Bali, yang diukur sepanjang 668,84 kilometer pada tahun 2016, telah menyusut menjadi 662,59 kilometer lima tahun kemudian. Garis pantai menghilang dengan rata-rata 1,21 meter per tahun.
Para peneliti memperoleh angka-angka ini dengan menghitung perubahan garis pantai Bali menggunakan data geospasial. Perhitungan garis pantai terbaru dari 75 stasiun pemantauan terpisah dilakukan pada Maret 2023.

Para peneliti menyimpulkan bahwa tingkat kehilangan garis pantai akibat erosi tertinggi terjadi di Bali bagian selatan, pantai barat, dan wilayah tenggara. Pantai-pantai di kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem adalah yang paling terdampak.
Perubahan garis pantai Bali sangat penting bagi perencana tata ruang dan zonasi serta mereka yang memproyeksikan tren dan pola pertumbuhan Pulau di masa depan. Pemukiman manusia, ritual keagamaan, situs budaya, dan pembangunan pariwisata mendominasi garis pantai Bali.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah selatan Bali telah mengalami pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan perubahan signifikan dalam penetapan penggunaan lahan.
Para ahli memperingatkan bahwa abrasi parah dan kenaikan permukaan laut akan mengakibatkan perubahan besar pada ekosistem pantai, kerusakan infrastruktur, dan hancurnya pemukiman manusia yang ada.
Studi lain yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 22% pantai Bali rentan terhadap perubahan iklim, erosi, banjir, badai, dan kenaikan permukaan laut. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), permukaan laut global telah naik rata-rata 2,5 milimeter per tahun selama 25 tahun terakhir.
Secara global, erosi garis pantai telah menyebabkan hilangnya 36.097 kilometer, atau 13,6% dari semua pantai berpasir, memakan 95.061 kilometer, atau 25,7% dari seluruh pantai selama paruh kedua abad ini. Lebih mengkhawatirkan lagi, para ahli memperingatkan bahwa jika emisi karbon global tidak secara signifikan dikurangi, lautan akan naik hingga 80 sentimeter, yang akan menyebabkan hilangnya 131.756 kilometer garis pantai di seluruh dunia.
Orang-orang di seluruh dunia membangun tanggul laut, menempatkan karung pasir, dan memasang pemecah gelombang untuk melawan dampak kenaikan permukaan laut. Dampak negatif yang semakin besar, seperti erosi pantai, menurunnya pasokan air tawar, sedimentasi, dan kesulitan ekonomi akibat perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut, tidak bisa diabaikan.
